19/1/2015
Jikalau kapas seringan awan
gagahkah ia
menampung hujan?
Tibanya
kemarau semusim lalu
kita
menghitung belulang ternakan
serta
reranting tanaman yang gersang
sambil
berharap malaikat maut datang
menghidangkan
segelas minuman.
Lupakah, pada
dua musim lepas
bukankah kita
pengembala dosa paling tegar
menternak
nafsu di kandang duniawi lalu
tatkala tiba
senja, kita biarkan ia bebas
meragut angkuh
di padang hibur hingga
runtuh pagar
imani dan peribadi.
Sekian kali,
saat petir mengetuk simpati pintu langit
kitalah warga
nyanyuk yang bersorakkan
menadah dan
meneguk air yang mengguyur
dari
langit-Nya ke tanah berlecah. Sungguh,
kitalah sang
pelatah dan pelupa
punya mata,
tapi yang buta
punya telinga,
tapi yang tuli
punya hati,
tapi yang mati.
Maka, kitakah
kerpasan awan atau
gumpalan kapas
hanya; buat menyuci
lanarnya nanah
jahiliah di dada sendiri?
-Muzaf Ahmad





0 comments:
Post a Comment